Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sifat Maushuf, Mudhaf - Mudhaf Ilaih, Mubtada Khabar

(8) SIFAT - MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)

MUDHAF - MUDHAF ILAIH (Kata Majemuk)

MUBTADA' - KHABAR (Subjek dan Predikat)


Berkaitan dengan Nakirah dan Ma'rifah, khususnya penggunaan Alif-Lam di awal kata atau baris Tanwin di simpulan kata, ada beberapa pola kalimat (rangkaian kata) yang perlu kita ketahui perbedaannya dengan baik. Yaitu:


1. SHIFAT ( صِفَة ) dan MAUSHUF ( مَوْصُوْف )

Bila rangkaian dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau semuanya dalam keadaan Ma'rifah (alif-lam) maka kata yang di depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang yang di belakang yakni Shifat.

بَيْتٌ جَدِيْدٌ  = (sebuah) rumah baru

اَلْبَيْتُ الْجَدِيْدُ  = rumah yang gres

بَيْتٌ كَبِيْرٌ وَاسِعٌ  = (sebuah) rumah besar lagi luas

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ الْوَاسِعُ  = rumah yang besar lagi luas

2. MUDHAF ( مُضَاف ) dan MUDHAF ILAIH ( مُضَاف إِلَيْه )


Rangkaian dua buah Isim atau lebih, satu kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi tanpa tanwin) dinamakan Mudhaf sedang kata yang paling belakang yakni Ma'rifah dinamakan Mudhaf Ilaih. Contoh:

بَيْتُ الْمُدَرِّسِ (=buku guru)

بَيْتُ زَيْدٍ (=rumah Zaid) --> Zaid = Isim 'Alam (Ma'rifah)

مِفْتَاحُ بَيْتِ الْمُدَرِّسِ (=kunci rumah guru)

Bila Mudhaf berupa Isim Mutsanna atau Jamak Mudzakkar Salim maka abjad Nun di risikonya dihilangkan. Perhatikan pola di bawah ini:

مُسْلِمَا الْجَاوِيِّ (=dua muslim Jawa)  

مُسْلِمُو الْجَاوِيِّ (=muslimin Jawa)  

مُسْلِمَا dari kata مُسْلِمَانِ (=dua orang muslim) --> Mutsanna

مُسْلِمُو dari kata مُسْلِمُوْنَ (=orang-orang muslim) --> Jamak Salim

Baik Shifat-Maushuf maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih, bukanlah merupakan sebuah JUMLAH MUFIDAH (جُمْلَة مُفِيْدَة) atau Kalimat Sempurna. Berikut ini kita akan mempelajari sebuah pola Jumlah Mufidah (Kalimat Sempurna).

3. MUBTADA' ( مُبْتَدَأ ) dan KHABAR ( خَبَر )

Sebuah JUMLAH ISMIYYAH (جُمْلَة اِسْمِيَّة) atau Kalimat Nominal (kalimat tepat yang semua katanya yakni Isim), selalu terdiri dari dua bab kalimat yakni Mubtada' (Subjek) dan Khabar (Predikat). Pada umumnya seluruh Mubtada' dalam keadaan Ma'rifah sedangkan seluruh Khabar (Predikat) dalam keadaan Nakirah. Perhatikan pola kalimat-kalimat di bawah ini:

Jumlah Ismiyyah Mubtada' Khabar

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ اَلْبَيْتُ  كَبِيْرٌ
(=rumah itu besar)
 (=rumah itu)
 (=besar)

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ
(=rumah yang besar itu mahal)
 (=rumah yang besar itu)
 (=mahal)

بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌ بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌ
(=rumah besar itu indah) (=rumah besar itu) (= indah)

مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌ مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌ
(=kunci rumah besar itu kecil) (=kunci rumah besar itu) (=kecil)

Dari pola kalimat di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. Baik Mubtada' maupun Khabar, dapat terdiri dari satu kata ataupun lebih.
  2. Mubtada' pada umumnya selalu dalam keadaan Ma'rifah.
  3. Khabar pada umumnya selalu dalam keadaan Nakirah.
  4. Mubtada' yang terdiri dari beberapa kata dapat merupakan Shifat-Maushuf (contoh kalimat II) maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih (contoh kalimat III dan IV)

Sebagai penutup, untuk mengingat-ingat perbedaan antara Shifat-Maushuf, Mudhaf-Mudhaf Ilaih dan Mubtada'-Khabar,

Selanjutnya kita akan membahas wacana Isim Dhamir atau Kata Ganti.
Buruan di klik gambarnya
Buruan di klik gambarnya